Membaca Derrida
Awalan
Catatan ini sekadar snapshoot point atas jejak Derrida (Jacques Derrida), seorang filsuf Prancis, yang dianggap penting sebagai tokoh post-strukturalis-posmodernis.

Derrida lahir di lingkungan keluarga Yahudi pada 15 Juli 1930 di Aljazair. Di 1949 Derrida pindah ke Prancis, di mana ia menetap sampai penyakit kanker mereggut hidupnya. Ia mengenyam pendidikan tinggi sekaligus sebagai pengajar di École Normale Supérieure di Paris. Derrida pernah mendapat gelar doctor honoris causa di Universitas Cambridge. walaupun pada kenyataan-nya banyak profesor di sana yang menolak, salah satunya adalah W.V. Quine. Alasannya, karya-karya Derrida dianggap sebagai karya ajaran yang absurd, yang menolak pembedaan antara kenyataan dan fiksi. Pun, banyak kalangan yang menilai bahwa sebenarnya Derrida tidak berfilsafat, melainkan hanya bermain-main dengan filsafat.
Di tahun 1967, ia sudah menjadi satu dari filsuf penting kelas dunia. Tiga karya besarnya yaitu, Of Grammatology, Speech & Phenomena dan Writing and Difference, adalah sebuah karya yang punya kekuatan pengaruh berbeda, namun Of Grammatology merupakan karya yang dianggap paling monumental. Dalam Of Grammatology ini, Derrida mengungkapkan dan kemudian merusak oposisi speech – writing, yang menurut Derida telah menjadi faktor yang begitu berpengaruh pada pemikiran Barat.
Sesudah penerbitan karya-karya awalnya termasuk teks-teks penting lain seperti Politics of Friendship, Dissemination, The Gift of Death, The Postcard, dll, wacana dekonstruksi Derrida perlahan mulai memainkan posisi penting di wilayah di benua Eropa, sampai pada konteks filosofis Anglo-Amerika. Wacana peran yang dimainkan Derrida khususnya di bidang kritik sastra mulai mendapat tempat, dan pada kajian budaya di mana metode analisis tekstual dekonstruksi memberi inspirasi Paul de Man, teoritikus terkemuka dari Yale University. Itulah dekonstruksi yang mulai menjadi subyek kontroversi. Sejak seringnya protes bermunculan dari kalangan filsuf ‘analitis’, Derrida banyak membuka dialog dengan filsuf-filsuf seperti John Searle, yang sering melempar kritikan atas pemikiran-pemikiran Derrida.
Seperti apa yang dirasakan Derrida, ilmu pengetahuan tidak dapat dipertentangkan dengan filsafat. Tidak masuk akal jika dikatakan bahwa ilmu pengetahuan sedang menyingkirkan filsafat atau bahwa filsafat sudah tidak mempunyai lingkup gerak lagi karena perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Derrida antara ilmu pengetahuan dan filsafat merupakan hal yang sama, karena keduanya berakar dalam rasionalitas yang sama. (Lihat: Bertens, Kees. 2001. Filsafat Barat Kontemporer: Prancis. PT. Pustaka Gramedia)
Derrida, seperti banyak teoritisi kontemporer Eropa, dalam usahanya membongkar kecenderungan oposisional biner yang mewarnai sebagian besar tradisi filsafat Barat, dekonstruksi Derrida terbatas pada pembongkaran narasi-narasi yang sudah ada, dan mengungkapkan hirarki-hirarki dualistik yang disembunyikan. (Lihat: Bennington, Geoffrey. 2000. Interrupting Derrida. London/New York: Routledge)
Oposisi biner paling terkemuka, yang dibongkar dalam karya awal Derrida, adalah antara ujaran (speech) dan tulisan (writing). Menurut Derrida, pemikir-pemikir seperti Plato, Rousseau, De Saussure, dan Levi-Strauss, semua telah melecehkan kata tertulis dan lebih mengutamakan ujaran, dengan memberi kontras dan menempatkan ujaran sebagai semacam saluran murni bagi makna.

Per-beda-an dan Pen-jarak-an
Tulisan merupakan prakondisi dari sebuah bahasa, dan bahkan eksistensi tulisan (atau bisa juga pada pengertian tanda/gambar) telah ada sebelum ucapan oral pada sejarah peradaban manusia. Maka tulisan memiliki tempat ‘istimewa’ daripada ujaran. Tulisan adalah bentuk permainan bebas dari unsur-unsur bahasa dan komunikasi, merupakan proses perubahan makna yang terus mengalami perubahan dan ini menempatkan dirinya di luar jangkauan kebenaran mutlak (yang biasa disebut dengan logos). Proses berpikir, menulis dan berkarya berdasarkan prinsip inilah yang disebut Derrida sebagai difference (Différance, kata Perancis berasal dari kata Latin differentia, yang jika diucapkan pelafalannya sama persis dengan kata difference –Inggris-. Kata ini berasal dari kata differer yang bisa berarti ‘berbeda’ sekaligus ‘menangguhkan/menunda’). Sebuah istilah yang diusulkan oleh Derrida di tahun 60an dalam kaitan dengan penelitiannya tentang teori Saussurean dan teori bahasa strukturalis. Dari differance dan difference kita tidak bisa membedakannya dengan hanya dengan mendengar pelafalannya (yang sama), tetapi harus melihat tulisannya. Di sinilah anggapan letak keistimewaannya sekaligus membuktikan bahwa tulisan lebih unggul ketimbang ujaran.
Perbedaan itu bukan suatu identitas dan juga bukan merupakan perbedaan dari dua identitas yang berbeda. Perbedaan-perbedaan yang di-tunda (defer) karena dalam bahasa Prancis, kata kerja yang sama (diffèrer) bisa berarti membedakan (to differ) atau menangguhkan (to defer). (Lihat juga: Lechte, John. 2001.” 50 Filsuf Kontemporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius)
Differance adalah permainan perbedaan-perbedaan dan pen-jarak-an (spacing), yang dengan cara tersebut unsur-unsur dikaitkan satu sama lain. Proses differance ini menolak adanya petanda absolut atau ‘makna absolute’, makna transendental, dan makna universal, yang diklaim ada oleh De Saussure dan oleh pemikir modern pada umumnya. Disini ia mencoba menemukan bagaimana bahasa mempunyai arti. Konsep Différance ini muncul ketika Derrida mencoba menemukan bagaimana bahasa mempunyai arti, Ia tidak merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh kaum modernis yang sering keliru karena meletakkan arti dalam kekuatan rasio dan kalimat yang dipakai untuk menggambarkan sebuah realitas.
De-konstruksi
Apa itu dekonstruksi? Istilah dekonstruksi sebenarnya berasal dari Martin Heidegger yang dipopulerkan kemudian oleh Jacques Derrida. Pada awalnya dekonstruksi dirumuskan sabagai cara atau metode membaca teks, masuk ke dalam analisis yang berkelanjutan terhadap teks-teks tertentu. Ia berfungsi menganalisis makna literal teks, dan juga untuk menemukan problem-problem internal di dalam makna, yang mungkin bisa mengarahkan ke makna-makna alternatif, termasuk keberadaan catatan kaki yang terlewati.
Sebagai sebuah metode dalam pembacaan membaca teks, dekonstruksi berbeda dari cara membaca teks biasa. Kalau dengan cara yang biasa membaca adalah usaha dalam pencarian makna atau informasi dari sebuah teks, tidak begitu halnya dengan dekontruksi. Justru ia merupakan kebalikannya, dekontruksi berusaha memperlihatkan ketidak-utuh-an atau kegagalan setiap upaya dari teks itu menutup diri. Dekonstruksi mau menumbangkan hierarkhi konseptual yang men-struktur-kan sebuah teks. Tetapi secara lebih positif dapat juga dikatakan, bahwa dekonstruksi menghidupkan bagian tersembunyi yang telah dibangun atas sebuah teks. Tidak mudah memang mendifinisikan kata dekontruksi, bahkan Derrida sendirioun menolak untuk mendefinisikannya. Namun menurutnya, dekonstruksi bukanlah sebuah model, bukan pula teknik, bukan juga sebuah gaya kritik sastra atau sebuah prosedur untuk menafsirkan teks. Disinilah Derrida yang hendak membuktikan bahwa setiap kali seorang filsuf membangun sebuah model baru realitas, akan selalu ada kelemahan-nya.
Inti dari dekonstruksi ini berhubungan dengan bahasa, sesuatu yang ditolak atas teks. Konsep ini memakai asumsi filsafat atau filologi untuk menghantam logosentrisme. (Lihat juga: Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius)
Dekonstruksi menyatakan, bahwa di dalam setiap teks terdapat titik-titik ekuivokasi (peng-elak-an) dan kemampuan untuk tidak memutuskan (undecidability), yang mengkhianati setiap stabilitas makna yang mungkin dimaksudkan oleh si pengarang dalam teks yang ditulisnya.
Oleh karena itu, dalam metode dekonstruksi, atau lebih tepatnya pembacaan dekonstruktif, filsafat diartikan sebagai tulisan, dan karena itu pula filsafat tidak pernah berupa ungkapan transparan pemikiran langsung. Sebab, setiap pemikiran filosofis tentu disampaikan melalui sistem tanda yang berkarakter material, baik grafis maupun fonetis. Dan sistem tanda itu tentu juga tak hanya digunakan untuk kepentingan filosofis.
Filsafat yang pada dasarnya adalah tulisan, ingin melepaskan statusnya sebagai tulisan, dan keluar dari kerangka fisik kebahasaan yang digunakannya. Bahasa ingin digunakan sebagai sarana transparan untuk menghadirkan makna dan kebenaran riil yang ekstra-linguistik, atau dalam istilah kita tadi, kebenaran absolut, kebenaran yang sebenarnya. Sedangkan tujuan metode dekonstruksi adalah menunjukkan ketidakberhasilan upaya penghadiran kebenaran absolut, dan ingin menelanjangi agenda tersembunyi yang mengandung banyak kelemahan dan ketimpangan di balik teks-teks
Akhiran
Dengan dekonstruksi ini Derrida menyerang ilmu filsafat yang dituduh terlalu logosentris dan obyektivistis. Bagi Derrida tidak ada bahasa yang dibatasi oleh dasar trasenden dan baginya mencari dasar transenden bagi bahasa adalah sesuatu yang sia-sia. Menurutnya, tulisan tidak mempunyai acuan di luar dirinya. Karena itu prinsip utama ilmu filsafat haruslah berupa sistem simbol yang tidak mendasarkan diri pada apa pun yang ada di dalam dirinya, kecuali bahasa. Dan bagi Derrida tujuan ilmu filsafat adalah bukan mempertahankan atau menjelaskan sistem-sistem ini melainkan merobohkannya, atau dengan kata lain merobohkan pendekatan lama yang selalu merujuk pada maksud penulis aslinya menuju pada penemuan arti teks dari luar dirinya.
Tidak mudah me-interpretasi-kan karya-karya Derrida. Selain ia menggunakan bahasa yang seringkali memang susah untuk diterjemahkan dan ambigu, sepertinya sengaja Derrida menggunakan gaya tulisan seperti itu, untuk memperlihatkan agar tidak terjebak pada logosentrisme. Hal ini banyak diakui oleh para pembaca Derrida. Lalu apakah Derrida berhasil dengan proyeknya? Yang jelas, Derrida tidak pernah menganggap karya-karyanya sebagai sesuatu yang pasti. [andsisko]
Pustaka:
- Muhammad Al-Fayadl, Derrida.
- Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat.
- Geoffrey Bennington, Interrupting Derrida.
- Kess Bertens, Filsafat Barat Kontemporer: Prancis.
- Kristine McKenna, An interview with the father of Deconstructionism.
[note: warm something up pro genEtika]
About this entry
You’re currently reading “Membaca Derrida,” an entry on AVANtGArDe
- Published:
- June 19, 2009 / 04:24
- Category:
- Postmodern
- Tags:
- dekontruksi, derrida, differance, difference, filsafat, pembongkaran, tulisan, ujaran
No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]