Perspektif
Mengamati televisi di jam-jam tertentu dimana semarak munculnya da’i-da’i baru bertebaran di berbagai saluran televisi, sungguh tidak mudah untuk menentukan apakah ini sebuah kebangkitan atau sekadar sebuah trend. Cenderung mengerutkan dahi, bahwa ceramah-ceramah dan kehadiran da’i-da’i ini hanya sekedar menjadi tontonan hiburan yang tidak membawa greget apapun atas pemirsanya kecuali satu dua saja dari kehadiran mereka yg punya nilai plus. Selain alasan bahwa kehadiran mereka hanya sekadar sebagai pelengkap sebuah masakan industri dan alasan-alasan lain, hal lain yang mengganggu adalah materi dakwah yang sifatnya cenderung menggurui daripada mengingatkan, lebih-lebih tidak memberikan suatu wawasan baru bagi para pendengar atau pemirsanya. Namun karena fenomena agama khususnya pada bulan Ramadhan seperti ini menjadi parameter laku atau tidaknya bagi industri maka masyarakatpun tidak pernah menjadikannya persoalan serius. Dan jadilah agama hanya sekadar sebuah visual.
Di sisi lain, muncul pula para habaib-habaib baru yang “melalang buana” dari mimbar ke mimbar di setiap pelosok dengan materi-materi ceramah provokatif yang tidak bisa dibilang barang baru. Ibarat agama sebagai kapal yang besar maka kehadiran seorang da’i adalah nahkoda yang menentukan arah kapal dan membawa mad’u-nya selamat selama perjalanan. Ironisnya pada kapal besar ini pemiliknya adalah para pemodal industri dan juragan kepentingan, dimana sang nahkoda setengah-setengah dalam menentukan selamat atau tidaknya penumpang.
Dengan berkembangnya masyarakat modern saat ini memang tidak dipungkiri betapa para da’i dan ulama, habaib harus lebih ekstra kerja keras dan yang lebih penting adalah terus-menerus melakukan upaya-upaya kreatif dalam kegiatan dakwahnya. Jelas bahwa dakwah mempunyai hubungan komplementer dengan perkembangan kebudayaan masyarakatnya, sehingga kreatifitas menjadi sesuatu yang vital untuk menjadikan dakwah tidak sekadar sebagai sebuah tontonan atau ajang orasi pengumpulan massa. Kecenderungan masyarakat modern atas dakwah sekarang ini sudah begitu pasif, ini karena dakwah dianggap sebagai barang kuno yang selalu “pura-pura suci”, menjemukan, ajang pamer kefasihan dan lain sebagainya, kalaupun tidak, agama menjadi amunisi baru sebagai simbol puritaninisme. Ibarat menyajikan nasi, dakwah memerlukan sebuah bakul, piring, layah, sendok-garpu dan berbagai pelengkap lain untuk kemudian layak disuguhkan. Kalau penyuguhan nilai-nilai luhur Islam tanpa adanya perangkat budaya sebagai upaya ijtihad, maka umat menjelma menjadi “kuda lumping” dengan meraup dan memakan apa saja. Bahkan sejarah menjadinya nasi yang dinikmati itu, juga membutuhkan upaya ijtihad berabad-abad dari padi yang kemudian diolah menjadi pari dan seterusnya. Pemakaian perangkat kebudayaan dan strategi-strategi kultural sebagai manifestasi ijtihad adalah perlu, proses dakwah harus lahir dari pengalaman mad’u bukan dari persepsi da’i.
Da’i juga harus menjadi fasilitator antara umat dan transformasi dialogis atas pandangan hidup dan spiritual mereka, sehingga umat menikmati setiap proses dakwah dan kehendak evaluasinya masing-masing untuk membangun kesadaran tanpa “paksaan menelan pil pahit”. Sebab masyarakat modern memiliki macam daftar distorsi akan makna dari nilai kehidupan dibanding masyarakat sebelumnya, dan kecenderungan akan pembalikan filosofis akan nilai-nilai moral sangat tinggi, disini kehadiran para da’i memerlukan metode-metode transformatif sedemikian rupa untuk tetap membawakan nilai-nilai agama dengan akurasi yang tepat. Betul, bahwa dakwah adalah amal ma’ruf nahi munkar tetapi muatan-muatannya haruslah melebar pada konteks memelihara manusia menjadi manusia artinya bahwa menyapa, menemani, berbuat atas setiap sesuatu yang termajinalkan (baik marjinal dari sisi pemahaman, ahlak, ekonomi, budaya,dll) dari masyarakat adalah juga tugas penting dari seorang da’i. Da’i yang melebur pada masyarakatnya adalah da’I yang tidak menggurui, tidak mendikte, tidak memerintah, tidak memprovokasi apapun juga selain mengambil sikap demokratis, urun rembuk dalam dialektika sosial umatnya.
Disini pentingnya, bahwa perlunya da’i-da’i baru itu untuk memahami bahwa Islam dan budaya memang tidak dapat dipisahkan sehingga sangat logis bila artikulasi dan ekspresi keislaman tidak pernah berwajah tunggal. Karena pada di level penafsiran, tradisi dan keyakinan setiap umat akan selalu dijumpai keanekaragaman. Sayangnya, kenyataan itu umumnya terabaikan dalam kesadaran melakukan dakwah. Yang berlangsung justru keterikatan umat Islam secara sangat ta’dzim pada fakta-fakta partikular masa lalu (Mohammed Arkoun, dalam Al-Fikr al-Ushûlî wa Istihâlat al-Ta’shîl, Nahwa Târîkhin Akhar li al-Fikr al-Islâmî – London: Dâr al-Sâqî, 1999) atau bahkan tidak terikat apapun atas fakta nilai-nilai agama yang berlangsung. Salah satu akibat dari ketidakluwesan dakwah selama ini adalah muncul nya sebagian kelompok Islam yang kemudian bangga menyebut diri kaum salafiy (al-salaf al-shâlih) dalam arti yang sempit. Dibutuhkan banyak kecerdasan-kecerdasan tafsir yang solutif dari para da’i untuk mengurai variabelitas budaya dan tradisi lokalitas masyarakat Indonesia. Sehingga perkawinan modernitas dan lokalitas dalam perspektif dakwah adalah sebuah keniscayaan yang tidak sekadar di permukaan. [Andsisko]
About this entry
You’re currently reading “Perspektif,” an entry on AVANtGArDe
- Published:
- September 19, 2008 / 23:11
- Category:
- Postmodern
- Tags:
1 Comment
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]