absurditas meta-Post

Hampir tidak ada makian yang tepat untuk menggambarkan betapa begitu menjijikannya masyarakat informasi/media saat-saat ramadhan ini, hampir semua peristiwa apakah yang menyangkut nilai, moral, keindahan khususnya agama menjadi barang yang memuakkan untuk hanya sekadar dinikmati sekalipun. Atau memang aku sudah tidak mampu untuk sekadar memaki, hanya pujian disertai geraham yang beradu menahan kegemasan… Inilah penggambaran suatu peradaban yang berbanding terbalik dengan menggilanya informasi dan teknologi. Mojok coffeshop dengan Sabrang -meLET nek difoTo- menjadi sesuatu yang menarik, menurutnya; peradaban sebuah teori yang nampak seolah mengerikan -bisa sesuatu yang menakjubkan, tergantung sudut identifikasinya, akan masa depan suatu teknologi yang/akan dikuasai manusia– sesuatu yang menakjubkan tentang unsur-unsur yang dikandung sebuah intan yang akan menggegerkan dunia iptek di masa depan, tetapi disamping takjub menurutku ini adalah sekaligus peristiwa dekontruksi peradaban nilai pada kehidupan social budaya manusia itu sendiri, suatu ironi yang kasat mata, suatu peristiwa yang mungkin kelak akan teridentifikasi sebagai meta-post, yang pasti absurd!

Bahwa bukan lagi suatu abstrak melainkan sesuatu yang begitu telanjang, bahwa munculnya gejala reduksionistik pada pengetahuan tentang manusia dari suatu era ke era berikutnya adalah peristiwa yang seiring dengan meningkatnya kompleksitas berbagai elemen budaya suatu peradaban. Gejala tersebut secara kasat mata terlihat pada diskursus tentang macam-macam entitas yang menyusun kedirian manusia menjadi kemudian khas para pemikir era post-modern, kemudian menjadi sebuah aktifitas dan kualitas yang mengaburkan kehadiran entitas kedirian, seperti kesadaran, ketidaksadaran, intensionalitas dan bahasa yang hingga mengalami penyusutan bentuk menjadi sebuah absurditas pengungkapan hasrat dan libido manusia di tengah rimba raya global era post-modern.

Peradaban post-modern bisa dikatakan telah meninggalkan jauh rasionalitas sebuah kebudayaan modern dan mungkin dunianya, dibenturkan pada sebuah ‘ketidakpastian’, apapun saja itu baik pada wilayah agama, nilai, moral, hukum, estetika, dll. Karena dalam dunia post-modern, ‘bahasa’ adalah sebuah permainan yang meng-asik-an, permainan tanpa mengenal sebuah batas. Hingga yang telanjang pada masyarakat kontemporer adalah sirnanya sebuah konsep diri di dalam dunia citraan masyarakat informasi. Konsep diri menjadi bukan lagi sebuah esensi tetapi sebuah konsumsi yang mudah ditemukan, dibeli, disewa, bahkan kadangkala perlu untuk dirampok. Inilah kemudian yang menjadikan sebuah realitas menjadi bukan lagi sebuah realitas, bahkan mungkin saja sebuah realitas kini menjadi sebuah mitos. Realitas bukan sebagai kesadarn diri melainkan sebuah dunia halusinasi yang berbondong-bondong masyarakatnya lekakukan migrasi –pada level dibawahnya setidaknya menjadi sebuah safari hunian baru-

Masyarakat kontemporer telah disarati oleh berbagai bentuk parody –bukanlah sebuah fenomena peristiwa Tukul Show dan News Dot Com menjadi begitu digandrungi masyarakat digital- yaitu ketika bentuk atau karya tersebut tidak lagi mengkritik, menggugat, melecehkan, merendahkan, menertawakan, memplesetkan bentuk atau karya lain -sebagaimana bentuk parodi pada umumnya- akan tetapi cibiran atas kebodohan dirinya sendiri. Ketika sesuatu atau seseorang memplesetkan dirinya sendiri, maka ia akan kehilangan realitas dirinya, tenggelam dalam abnormalitas dan telah kehilangan identitas. Ironisnya, dalam dunia halusinasi –abnormalitas- adalah sebagai sesuatu yang sangat normal, sesuatu yang membanggakan yang seolah sepasang kaki terangkat dan bersih dari kubangan lumpur. (Inspiring water with Sabrang)

Medio Ramadhan 1428 H/11 Oct 2007 M; 11.55 PM



About this entry