teori generasi awal
Seperti sebuah dejavu yang seolah berdansa, obrolan malam di sebuah mansion seperti semburat kegelisahan yang menyeretku berjalan mundur. Suatu abstrak sebuah teori psikologi sosial dan kebodohan manusia postmodern seolah menjadi belenggu yang kuat tetapi rapuh diantara kegelisahan kita malam itu. Hmm… setidaknya ini kegelisahan awal yang terekam, adalah sebuah “Arus Balik Generasi Awal”, seperti itukah sebuah sosial dan teorinya? Anggap saja begitu.
Sekiranya kalau kita melacak sebuah perbedaan, sepertinya lebih mudah dilakukan daripada menemukan sebuah persamaan, demikian pula dalam sebuah wilayah komunikasi. Dia selalu mengalami arus distorsi sekaligus mengalami posisi ketimpangan antara satu sisi dengan sisi yang lain, terjadinya jelas disebabkan tidak adanya suatu dialektika antar komunikan. Ada kalanya kuasa dominasi yang menentukan bagaimana akhir dari cerita suatu perkara. Di sisi lain, pihak dengan posisi tawar yang lemah selalu menjadi mangsa dari ketimpangan struktur kuasa tersebut. Disinilah suatu dominasi diidentifikasi sebagai kepentingan force power.
Aku pikir, permasalahan yang tidak kecil di wilayah ilmu-ilmu social kontemporer adalah adanya sebuah fenomena benang kusut yaitu adanya sebuah ketidakseimbangan komunikasi, tentunya termasuk didalamnya adalah wilayah politik, yang mungkin lebih busuk. Dalam ruang sintesa politik liberalisme kapitalistik dan sosialime yang dimanefestasikan atas nama Demokrasi, voting dianggap sebagai akhir dari penentuan satu
keputusan, maka voting ini merupakan bentuk kebenaran yang dipaksakan lewat dominasi kuantitatif, sebagai kebenaran rezim suatu angka. Pada konteks ranah memperjuangan kepentingan diluar kuasa dan menciptakan harmoni antara komunikan inilah aku mencatat untuk merekam sebuah proyek modernitas sebagai suatu avant-garde yang belum rampung, salah satunya meraba pada wilayah dialektika antar komunikan yang bebas dominasi force power.
Diktum kematian kapitalisme dan ramalan akan kejayaan sosialisme oleh kalangan Marxist ternyata hanya menjadi slogan besar belaka. Puuaah… pada kenyataannya justru komunisme sosialime terkapar dan menjadi artefak sejarah pergerakan semata. Jika kemudian sekarang Kuba, Korea Utara, masih dianggap mewakili kelompok yang percaya akan ajaran Marx, dan maka pada bagian yang lain kajian terhadap kelemahan Marxisme telah menjadi satu proyek besar dari para pemikir di Frankfrut, setahuku ini yang kemudian dikenal dengan aliran teori kritis pada periode 70-80an. Hmm…berpikir Demokrasi atau Islam? Simpan saja dulu itu!
Teori Kritis generasi awal ini tidak lagi terpaku pada bagaimana struktur masyarakat yang terkotak dalam pertempuran kelas pemilik modal buruh, bukan lagi konflik dialektis antara buruh yang merebut haknya dari majikan dan sebagaimana yang menjadi ciri khas dari Marxisme lainnya, tetapi malah melihat dampak industrialisasi kapitalisme yang menyaru dan menyeruak dalam bentuk yang lebih canggih, bentuk dominasi kuasa yang masuk dalam semua kesadaran maupun alam sadar manusia. Memuakkan!
Yang dipahami si penari bodoh-bodoh itu, bahwa laju dialektis dari materi berwujud dari hubungan kuasa antara pemilik modal dengan kaum buruh. Ada ekspolitasi terhadap buruh yang menyebabkan pemilik modal secara gradual terus memupuk keuntungan berupa modal yang akan digunakan untuk mencari kemungkinan baru dalam mengumpulkan modal yang lain.
Bagi Teori Kritis, dominasi kuasa kapitalisme ini telah menyerabut semua individu dalam komunitasnya sendiri. Bukan lagi buruh yang harus menuntut haknya tetapi justru label buruh itu sendiri telah dikuasai oleh konstruksi kapitalisme baru (Late Capitalism, begitu ingatanku mengenang romantisme semasa di UNSW, hehe… apa kabar kecoak & pacar gelandanganku itu sekarang?). Maksudnya secara tidak sadar system kapitalisme membuat nyaman buruh dengan berbagai varian-varian yang diciptakannya. Teori kritis beranggapan hal ini terjadi karena kapitalisme gaya baru ini merupakan perselingkuhan antara regulasi keputusan negara berupa intervensi negara dalam hal-hal publik yang tidak jelas apakah ini wilayah individual yang bebas atau wilayah dimana negara bisa ikut campur.
Tetapi teori kritis hanya sanggup membongkar tanpa kemudian memberikan jalan keluar dari semua kebuntuan respon kemenangan kapitalisme gaya baru. Ini terdengar seperti sebuah positivisme yang mengkondisikan manusia dalam tataran kuantitatif, matematis, prosedural tetapi sekaligus rasional. Setidaknya hal ini merupakan satu bentuk penyerahan diri manusia untuk terus di eksploitasi oleh rasionalitas instrumental, baguslah… dan ‘selamatlah’ dari kemerdekaanmu sendiri!
Bagiku, sisi-sisi manusia sebagai mahluk pekerja yang digerakan dengan semangat positivisme pada akhirnya akan menyerabut manusia pada tataran kemanusiaanya. Teori kritis memang memberikan pembahasan serupa, tetapi letak penekananya lebih kepada upaya untuk mencari jalan keluar berupa penggunaan medium komunikasi bebas hambatan emansipatoris yang menjadi ciri khas (Habermas, kalau tidak salah) tidak pernah tersentuh dalam pemikiran teori kritis. Teori Kritis hanya menunjukan bagaimana kapitalisme baru yang menyaru dalam wilayah publik menjadi satu hal yang tidak bisa dilepaskan dalam dunia keseharian kita. Teori kritis tidak lebih dari upaya pencarian teoritis dari patalogi modernitas yang kemudian dilanjutkan secara lebih sistematis oleh para pencetus teori itu.
Para pembuat teori itu masih mempercayai semangat pencerahan sebagai sesuatu yang positif dan masih meninggalkan harapan. Baginya memang modernitas dibeberapa bagian telah mengalami penyimpangan (deviasi) yang berakibat semakin tumbuhnya dominasi-dominasi dan eksploitasi-eksploitasi yang dilakukan oleh masyarakat modern, tetapi di bagian yang lain semangat emansipatoris dari komunikasi aktif baginya merupakan salah satu cara untuk tetap optimis dengan modernitas.
Permasalahannya sekarang terletak pada perbedaan karakter-karakter ilmu sosial –sebagai alat- dengan rasionalitas dari kehidupan. Karakter ilmu sosial berupa sistem yang telah menciptakan kesuksesan dalam dominasi, dan rasionalisasi tujuan, yakni satu usaha untuk terus menerus mencari cara untuk berhasil. Sedangkan dipihak lain, rasionalitas dalam dunia kehidupan berupa rasio komunikasi sebagai mediasi bahasa dalam mengkomunikasikan satu ide/gagasan. Kedua karakter ilmu sosial ini sebenarnya merupakan satu kesatuan sinergis, tetapi kenyataanya dalam modernitas justru rasionalitas menjadi sesuatu yang utama yang mengangkangi dimensi dunia kehidupan…aargh…
Akhirnya, apakah kegelisahan ini menawarkan sampai sejauh mana kepekaan manusia dalam bersikap dan menyikapi suatu perbedaan? Bisa terus searah dengan keinginan ideal dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik? Sebagai kepanjangan tangan dari modernitas tentunya ini masih memberikan ruang besar bagi pengakuan terhadap universalitas dan essensialitas. Hehe… ironisnya, ini satu hal yang kini oleh kalangan posmodernis dianggap sebagai satu kenaifan. Begitukah? (Refeleksi mansion, CN-IanBetts-Sis-UkiBayu).
Medio Oct 10, 2007; 2.33 AM
About this entry
You’re currently reading “teori generasi awal,” an entry on AVANtGArDe
- Published:
- October 10, 2007 / 02:33
- Category:
- Postmodern
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]