kehadiran yang Lain
Hampir tidak pernah menduga sesuatu bisa begitu saja muncul dan berputar-putar di dalam kepala sebab ia hakekatnya ada. Bagi seorang yang percaya pada apa yang di yakini dan dialami orang lain, memahami di alam pikirannya, kualitas itu menjelma sebagai sebuah empati pemahaman. Begitu banyak pinanda dan tinanda yang beredar di luar sana, begitu tumpang tindihnya. Kadang muncul dengan maknanya, kadang berteriak sebagai kepalsuan, terkadangpun semburat dan kusut antara kepalsuan-kebenaran-mitos-mistik, atau mungkin hanya sekadar abstrak bahkan bisa jadi menjelma rumusan-rumusan sebuah peradaban.
Seperti angka, dunia numerology dan kepekaan ‘psiko-magis’-nya menjadi daya pikat setiap generasi peradaban. Termasuk golongan mana ini? Bahasa atau bukan? Pinanda atau tinanda? Dimana sisi-sisinya? Berdiri sendirikah? Ia menipu atau tak dapat disangkal? Relatifkah? Yang jelas ia bisa menjadi sesuatu yang menakjubkan, terserah apa tafsirmu atas ‘menakjubkan’.
Tiba-tiba sejenak menginventarisasi simbolisme di sekitar kita, apa saja, yang kemudian membuat kesadaran terhadap sebuah ruang, menggelitik kembali alam pikir, mengacak sebuah eksistensi. Seperti melacak besarnya paradigma kesadaran yang sama besarnya seperti ketidaksadaran itu sendiri.
‘Angka dapat mempengaruhi perkembangan kejiwaan manusia’, begitu ungkapan sebagian pakar. Sulit untuk mengatakan setuju ataupun tidak setuju. Setiap angka mempunyai karakter dan pengaruh psikologisnya sendiri. Simbolisasinya bisa merupakan ketidakpastian sekaligus bias berubah menjadi kepastian itu sendiri, atau bukan merupakan ‘apa-apa’, layaknya manusia yang terjebak oleh nihilisme-nya sendiri, oleh keremeh-temehannya sendiri, oleh batasannya sendiri. Begitu semestanya kosmos ini, begitu tak berjarak dan tak tertampungnya ruang ini oleh ruang itu sendiri. Jadi adakah sebuah nihilisme? Batasan, sesuatu yang manusiawi tapi kesadaran akan sesuatu yang ‘tak terbatas’-pun merupakan hal yang selalu bersentuhan dengan kemanusiawian di dalam setiap aktifitas ‘ruh’. Nihilisme bukanlah kekosongan, bukan ketidak niscayaan, bukan kematian, bukan akhiran. Tidak ada yang sudah mati, tidak ada yang terus mati, tapi apakah ada yang membunuh? Mungkin…’sadar’ kita sendiri yang membunuh, membunuh ‘the other’, memposisikan diri sebagai mahluk ‘unconscious’.
Sesuatu yang ‘tak terhingga’ bukanlah yang diidentifikasi sebagai nihilitas, tetapi ‘yang membatasi’ adalah nihilitas. Karena itu, rasionalitas filsafat modern tak lebih dari rasionalisasi, yang menghasilkan kebenaran dan bersifat transkultural. Sementara filsafat posmodern hanya mengakui kebenaran yang bersifat lokal dan subyektif; artinya, ada pluralitas kebenaran. Disini, baik ‘nyanyian’ modern dan posmodern adalah sejenis histeria subyektifitas yang mendestruksi segala bentuk obyektifitas.
‘Gugatan’ dilanjutkan dengan dekontruksi, suatu pembongkaran cara berpikir yang logis, atau cara berpikir yang kita anggap benar karena ‘dianggap’ rasional. Dekontruksi membongkar unsur-unsur ketidaksadaran dari proses pemikiran, sehingga amat terpengaruh dengan psiko-magis simbolisasi angka, misalnya. Berlomba memburu simbol ‘keberuntungan’ atau menjauh dari ikon sesuatu yang ‘sial’. Di antara unsur ketidaksadaran tersebut adalah pengaruh-kuasa yang muncul dalam kesadaran. Dekontruksi menolak pemikiran dominan karena tak lebih dari sebuah produk relasi pengetahuan-kuasa. Mungkin, yang dijadikan pilihan adalah pemikiran-pemikiran marginal; pemikiran tentang ‘yang ditolak’.
Layaknya sebuah ‘blueprint’ semesta, keberadaan angka dan tujuan dalam alam peradaban manusia adalah sesuatu yang dirancangkah? (Sket adanya sebuah perhitungan. al-Mukminuun:112-113 ; “…Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”). Transformasi nilai psikologisnya apakah sesuatu yangeksak ataukah metafisis? (al-Mukminuun:114 ; “…Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.”).
Kita identifikasikan sebagai eksak karena minimal sesuatu yang eksak adalah sesuatu yang bisa diprediksi. Inilah sebuah penyatuan kontemplasi meta-fisika. Tetapi terlalu mudah untuk asing mengatakan, sesuatu yang bersifat eksak sebenarnya bisa memberikan buktinya pada tinjauan metafisis. Bak rancangan semesta yang mempuyai akar dalam sains, tetapi mengandung prinsip metafisis. Paling tidak, pola kecenderungan kosmos mengarah kepada ‘penyatuan’, sebuah ‘manunggaling’.
Melampaui nihilitas?; ‘Cogito ergo sum’, Aku berpikir maka aku ada. Descartes mengawali keyakinan aksioma (pikiran-pikiran pertama) alam pikirnya, menjadikan hukum pertama akalnya untuk sekaligus tidak mengingkarinya sebagai sebuah ungkapan dari suatu kebenaran. Sampai kepada: ‘aku ini ada. Maka siapa yang mengadakan aku dan menciptakan aku?’. Pelajaran Descartes adalah pelajaran ‘rasa’, merasakan sebuah tanda (adanya) Tuhan melalui dan melampaui apa saja, dimana saja di sekitar kita. Yang kita kira adalah, Tuhan membagi-bagi sesuatu kepada bagian-bagian, besar-kecil, untung-rugi, mujur-sial, dsb. Lupa, bahwa ada suatu keharmonisan azali atas alam atau atas apa saja yang kita anggap ‘pantas’ dan ‘tidak pantas’ buat kita. Indera menipu, anggapan mengelabui dan akal pikiran kacau.
Ketakutan manusia adalah ketidakmampuan akal dan kebimbangan, ketika tiba saat memikirkan tentang ujung terakhir dari ruang dan waktu. Ketakutan ketika membayangkan dirinya terbawa antara ujung jurang dalam ketidakterbatasan dan ketiadaan. Seperti ungkapan seorang Pascal menyinggung pengetahuan-kuasa: ‘…karena merasa diri kuasa dari keseluruhan sesuatu, bukan merupakan sebagian sesuatu,…’ Terlalu…terlalu…, Tapi sudahlah…lupakanlah ’gugatan-gugatan’ tersebut, karena ‘the other’ tidak membutuhkan klaim kebenaran; ada pluralitas kebenaran, ada absurditas kebenaran (se-absurd ‘gugatan’ini). Bisa jadi dari semua yang diatas dikatakan mengandung ‘kebenaran’, atau boleh jadi, semuanya tidak mengandung ‘Kebenaran’, dan mungkin itulah ‘Kebenaran’ sejati. [sampah teruntuk sahabat xxxxx22710 ‘dukun’]
Medio 18 Maret 2007
About this entry
You’re currently reading “kehadiran yang Lain,” an entry on AVANtGArDe
- Published:
- March 18, 2007 / 10:49
- Category:
- Postmodern
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]